Spiderman : Homecoming !! Pecinta MCU (Marvel Cinematic Universe) Indonesia merayakan euforia menonton salah satu andalan Marvel, lebih awal dari kampung halamannya, Amerika. Film ini adalah film hasil reboot kedua dari sebelumnya versi Tobey Marguiere dan Andrew Garfield. Tom Holland didapuk menjadi spiderman dengan penceritaan baru ini. Berbeda dari film-film sebelumnya yang diproduksi oleh Sony dan Colombia Picture, edisi kali ini berkerja sama dengan Marvel Picture dan menarik masuk spiderman ke ranah MCU. Jon Watts yang ditunjuk mengarahkan film ini, sebelumnya berhasil mengarahkan film Cop Car (2015) .
Spiderman : Homecoming membuat film reboot ketiga ini diharapkan memberikan kepuasan berbeda terhadap penonton. Hampir saja saya kecewa (mungkin berbagai penggemar merasakanya juga) terhadap munculnya berbagai trailer sehingga sempat terpikir marvel terlalu berani mengeluarkan banyak poin kejutan, tapi dugaan saya salah. Spiderman : Homecoming membuat banyak kejutan, sehingga teori-teori yang dibuat oleh penggemar setelah menonton trailer jadi tutup mulut.
Cerita film ini mengambil setting setelah beberapa bulan film “Captain America : Civil War”, Peter Parker, 15 tahun, masih seperti remaja mayoritas masih labil dalam mengendalikan emosi dan berdampak pada tindakan. Untuk itulah Iron-Man (Tony Stark) menjadi mentor bagi Peter Parker. Selanjutnya saya akan menyebut Peter Parker saja karena film ini lebih memfokuskan kehidupan remaja tersebut terhadap kekuatannya.
Dari segi naratif, seperti banyaknya film populer MCU lainnnya, naskah film ini lebih komikal dengan karakterisasi Tom Holland yang mendekati karakter komik. Tom Holland membawakan peran Peter Parker muda dengan penampilan kocakm nerd, dan lugu. Menggunakan konsep naratif struktur tiga babak, film ini membuat saya sedikit terbawa pada fase ketegangan. Uniknya plot pada tiap fase ketegangan menjadi lebih thriller, kemudian diselesaikan oleh suasana fun.
Saya akan coba mengambil konteks cerita film ini. Banyak yang tidak setuju dengan pemilihan peran di Spiderman, seperti Flash, Lis, MJ, dan Ned. Secara tidak sadar masyarakat kita rasis dalam hal ini meskipun dengan dalih “Di komik pemerannya tidak seperti itu”. Proses ekranisasi dari komik menjadi film bukan layaknya fotokopi. Ada proses pendalaman kreatifitas dari karya komik yang telah terbit. Justru pendapat saya, pada hal ini menjadi sebuah keunikan atau mungkin sebagai kampanye Hollywood yang mengedepankan keberagaman. Jati diri itu di interpretasikan menggunakan pemeran-pemeran antar ras, terlebih seperti dialog Peter Parker pada Tony Stark, “Saya adalah Pahlawan Lingkungan”. Karena Spider-Man merupakan pahlawan kelas bawah, saat itu memiliki perspektif lain terhadap peran superhero lain (Avengers) . Satu hal lainnya adalah film ini mencoba mengungkit kembali momen-momen memoreable dari film-film reboot sebelumnya, mulai dari ciuman dibawah hujan (kalo film ini pasca bencana tower), penjahat merupakan bagian dari orang terdekat, dan tatapan mesra Vulture (Michael Keaton) ala goblin (di dukung dengan pencahayaan hijau) Spider-Man satu dan masih banyak lagi.
Keseluruhan film ini mencoba mengambil sudut pandang anak 15 tahun mengendalikan kekuatan serta emosi karena masih golongan remaja labil, juga mengambil sudut pandang Spiderman yang menjadi superhero kalangan kelas bawah (lingkungan) terhadap masalah-masalah yang terjadi pada superhero lain yang sudah dewasa. Yap, memang ini adalah film untuk Peter Parker tanpa harus menyaksikan paman Ben mati lagi atau melihat bagaimana dia bisa mendapatkan kekuatannya (mungkin sekuel-sekuel selanjutnya akan menceritakan itu semua). Kronologi-kronologi MCEU juga tidak terganggu dengan hadirnya Spider-Man yang telat masuk MCEU.
Hanya saja kekurangan pada film ini bertumpu pada kelemahan pengenalan masing-masing karakterlebih dalam. Meskipun motif Vulture sudah jelas tapi masih kurang menggigit atau mungkin itulah kelebihannya. Karena motif disini penjahat lahir karena pemerintah itu sendiri. Kriminalitas ada karena adanya kaum modern, kapitalis, borjois, pemerintah yang bertindak tanpa mengambil struktur sudut pandang kaum papa, atau proletar.
Rating : 3.7/5 (Semua tidak ada yang sempurna)
Penulis : Herlambang Setia Aji



Komentar
Posting Komentar